Insiden Demokrasi dan HAM, 16 Maret 2012


Eitts, jangan buru-buru menyimpulkan kalo tulisan ini bakal jadi ajang cuap-cuap mengenai sebuah insiden yang melukai nilai-nilai dan cita-cita Demokrasi dan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Tulisan ini sebenernya gue tulis untuk mencurahkan kegundahan akibat sebuah kejadian—ato lebay-nya insiden—pada pertemuan ke-2 mata kuliah Demokrasi & Hak Asasi Manusia di jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran pada 16 Maret 2012, pukul 08.20 s. d. 09.38 WIB di Gedung B, Lantai 3, Ruang 02, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Singkat cerita—halah; belom juga mulai—, pagi ini dosen yang masuk adalah Pak Didi—sang Ketua Jurusan HI—yang juga berkuasa sebagai dosen kepala untuk mata kuliah ini. Gue, duduk di baris ke-2 sebelah kiri pake kaos cokelat, jeans Levi’s, sepatu Yongki Komaladi, Kacamata Puma, celana dalem Pierre Cardin warna biru, serta dilengkapi alat tulis Standard Pilot AE9 0.5 Alfatip dan Agenda UI—IRRELEVANT!—, mengikuti perkuliahan dengan seksama sambil sesekali mencuri-curi kesempatan buat ngelengkapin catatan Teori & Isu Pembangunan sama HI Kawasan yang ketinggalan dari catatan Ica—Carrisa Ghassini.

Carrisa Ghassini Rahman (as in Rendra Aditya Rahman)

[Sumber Foto: Akun Facebook Carrisa Ghassini]

Perkuliahan pun berjalan lancar. Meskipun diawali dengan kekecewaan rekan-rekan gue dari kelas A karna akhirnya diganjar tugas 7000 kata juga kaya kelas B—which I, on the contrary, have been looking forward;snap!Pak Didi ngasih materi mengenai usaha-usaha PBB dalam menangani permasalahan HAM di berbagai belahan dunia.

It went all just fine; until he took some minutes to expound some Human Rights violation examples occurred lately. Kurang lebih, ini beberapa contoh yang dikasih sama beliau;

Contoh 1:

“Pemerintah, misalnya, melalui PT KA—eh PT KAI ya sekarang—tidak melakukan usaha apapun untuk mengatasi masalah penumpang kereta yang naik di atap; yang ada malah dilakukan tindakan penyetruman. Ini kan namanya merendahkan nilai-nilai asasi manusia…”

Contoh 2 (sebenernya ga nyambung, but after something led to some other thing and then led to another one, somehow we got to this one):

DPR aja liat. Udah negara lagi heboh kasus korupsi, BBM naik, dan sebagainya, malah ribut-ribut dateng ke Kantor Pajak. Ngapain? Kalo menurut saya mah ya; kalo yang kecil-kecil aja kasusnya sebegitu besar, gimana yang menengah ke atas? Tapi malah ga ada yang diurusin.”

Contoh 3:

“Itu pedagang-pedagang kaki lima juga kenapa masih ditarik pajak tapi tetep digusur juga? Harusnya pemerintah kan ada usaha dulu menyelesaikan dengan baik-baik,…”

Kira-kira begitu deh contoh-contoh yang dikasih Pak Didi; biar bahasanya juga ga persis begitu, but I’m quite sure, with no doubt, that he did say those things. Gue, yang emang nyimak kuliah dengan baik meskipun lagi ber-multitasking ria, jadi kaget kan; kenapa ini contoh-contohnya dikasih cuma sepenggal-sepenggal; maksudnya ga lengkap? I mean, kaya contoh pertama, kok dibilang cuma PT KAI gagal? Kan ada usahanya juga biar belum solutif.

Atau kenapa dibilang DPR ribut-ribut ngedatengin kantor pajak ga ada gunanya; tapi cuma pengalihan isu? Bukannya dari sidak Komisi Hukum ini akhirnya sekarang ada dua kasus penggemplangan pajak dalam jumlah besar yang bakal diusut ya? Salah satunya perusahaan punya Martua Sitorus, PT Wilmar, if I’m not mistaken. Okelah, kalo misalnya tindakan Komisi Hukum dianggap ga beretika sama Komisi Keuangan ato lebih ekstrim; dinilai sebagai pengalihan isu. Cuma, kalo misalnya dari sidak ini ada hasilnya, ato dengan kata lain, bukan sekadar pencitraan belaka, ya kenapa dipermasalahkan? Menurut gue, dengan pola positive thinking, mestinya sih emang Komisi Keuangan ga perlu heboh-heboh masalah administratif sama Komisi Hukum. Just look at the silver lining; media pun akhirnya punya bahan berita yang mengesankan wakil rakyat ga sekadar makan gabut doang. Tapi karna Komisi Keuangan—yang padahal merupakan sumber jutaan kebobrokan pejabat Senayan—mencak-mencak macem Olga yang ga jelasnya ga ketanjak, ya akhirnya media massa lebih tertarik memberitakan masalah administratif yang kalo menurut gue bullshit abis buat DPR yang jelas-jelas administrasinya lebih kacau dari zaman gue mimpin OSIS pas SMP.

Dengan alasan itulah, gue, sebagai mahasiswa, merasa agak kurang setuju dengan metode ajar Pak Pak Didi yang ngasih contoh berita tapi cuma sepenggal-sepenggal. Biar begitu, gue tetep diem aja karna mikir mungkin niatnya supaya kita, mahasiswa, pada menyempatkan diri buat mencari tahu lebih lanjut mengenai kasus-kasus yang disebutkan. Dengan kata lain: that was meant as a triggering statement.

But then it occurred to me, kalo misalnya ada yang ga ngikutin perkembangan berita secara rutin, maka yang tertanam di kepala dia ato mereka ya bakal mentok segitu; yang kemudian sangat potensial menimbulkan kesimpulan seperti;

Ini pemerintah kerjanya apa sih kaga ada yang bener :/ Samvah abizz,” atawa

Udah deh. Pussyiiing. Ga ada harapan lagi gue sama pemerintah. Terserah lah mau ngapain aja. Abisin deh itu duit rakyat,” dan sebagainya.

Just some seconds after the thought crossed my mind, gue ngedenger ada beberapa komentar dari berbagai arah mata angin yang intinya kurang lebih ga jauh beda sama ketakutan gue; bahwa pemerintah negeri ini emang udah terlalu ancur; jadi ga ada gunanya lagi menaruh harapan sekecil apapun. Akhirnya, karena merasa ini ga boleh dibiarkan, maka gue pun berubah menjadi power ranger merah—ga ding; berubah jadi pengacung tangan meminta kesempatan berbicara pada Pak Didi yang kemudian mempersilahkan. And there it is, the drama began… Ehm, Ehm,

Terima kasih pak. Saya sebenernya bukan mau bertanya; tapi menanggapi beberapa hal yang bapak sampaikan tadi. Menurut saya, ada beberapa poinyang bisa jadi menimbulkan salah persepsi di antara peserta kuliah. Yang pertama, tentang PT KAI; bapak menyebutkan bahwa tidak ada usaha nyata yang dilakukan oleh PT KAI dalam hal penanganan penumpang nakal yang naik ke atas atap kereta. Nah, saya merasa kurang setuju dengan pernyataan bapak ini; karna misalnya, ketika saya tinggal di Depok selama setahun, saya sering kok pak liat ada petugas yang langsung berusaha mencegah penumpang-penumpang nakal kaya gini; meskipun ga rutin. Kedua, pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN sekarang pun, bahkan pernah turun ke lapangan dan mau naik ke atap kereta untuk berdialog langsung dengan masyarakat; tapi dilarang oleh petugas di lapangan. Trus yang ketiga, pernah ada pemasangan besi pembatas di atap kereta sebagai upaya fisik supaya penumpang ga bisa lagi manjet ke atas atap; tapi ternyata masih teteup dipanjat juga. Lalu juga pernah ada pemuka agama yang didatangkan untuk memberi nasehat dan wejangan; dan masih diangggap angin lalu. Hingga akhirnya PT KAI terpaksa memublikasikan foto-foto korban meninggal yang jatuh dari atap kereta atau yang tersengat listrik rangkaian. Sayangnya, cara ini juga gagal. Jadi, menurut saya, pemerintah itu bukannya tidak bertindak; namun hanya belum berhasil menemukan solusi yang tepat sasaran lagi efisien.”

Pak Didi mendengarkan ocehan gue dengan senyam-senyum di depan kelas. Sayangnya, ekspresi wajah beliau random abis; ga ketebak. And I kept going,

Trus yang kedua, masalah anggota DPR ribut-ribut tentang insiden di Direktorat Jenderal Pajak itu, setau saya bukan ada agenda apa-apa (dengan asumsi gue adalah cowo ganteng yang lugu abis); melainkan ribut karena Komisi Keuangan merasa dilangkahi oleh Komisi Hukum yang melakukan sidak ke Ditjen Pajak tanpa ada surat permohonan izin ataupun pemberitahuan pada Komisi Keuangan terlebih dahulu. Dan dari…—”

Hap! Omongan gue tiba-tiba terhenti karna dipotong sama Pak Didi yang emang dari awal udah keliatan pengen melakukan rebuttal atas omongan gue. Ya gue sih langsung diem walaupun masih mengeluarkan suara-suara rintihan kaya “tapi pak...”, “maksud saya…”, “begini loh pak…”, dan sebagainya. Sayang, Pak Didi sepertinya terlanjur terbakar oleh omongan gue sehingga lanjut aja menanggapi tanpa memberi gue kesempatan meluruskan persoalan. Kurang lebih, beliau menanggapi begini;

Oke, oke, saya udah ngerti maksud kamu apa. Cuma ya, saya kok ga bisa nerima kalo dibilang saya merecoki anda sekalian dengan pemikiran saya. Saya kan cuma ngasih contoh. Itu juga masalah pengelolaan kereta api, saya udah ngalemin ini 60 tahun. 60 tahun lo ya (dengan penekanan); tiap pulang kampung harus berdesak-desakan dan sebagainya. Lagian saya kan bilangnya bukan pemerintah ga berupaya, tapi semestinya upayanya yang bener. Kalo logika saya sih gampang; ya tambah aja gerbongnya. Beres kan? Kalo begini sih ya udah besok-besok saya ga kasuh contoh lagi…”(masih panjang lagi tapi gue ga bisa me-recall satu-satu lah ya)

Jleb! Gue berasa ditusuk dari belakang—eh, jangan deh, dari depan aja. Kalo dari belakang kok rada gay-ish gitu. Dalem otak gue langsung berkecamuk,

Lho? Ini apa-apaan? Kok gue malah dibilang menuduh bapaknya merecoki mahasiswa? Nooooooooooooooo “

Sekuat mungkin, gue berusaha meminta kesempatan meluruskan kesalahpahaman si bapak. Apalagi seisi kelas udah heboh; ada yang ketawa ngeliat gue ngacung-ngacung tangan tapi malah jadi kaya orang megap-megap cuma ngeluarin bunyi-bunyian kesakitan; “aduh pak, saya itu…”, “pak, pak, maksud saya bukan…”, “walah. kok...”, dan sebagainya. Pak Didi, yang mungkin salah paham dengan omongan gue, tetep melanjutkan penjelasan beliau. Gue pun akhirnya cuma bisa bersabar diam lima bahasa—cuma bisa Inggris, Indonesia, Arab, Minang, sama sedikit banget Prancis soalnya. Jadi ga sampe seribu bahasa—sambil menunggu dikasih kesempatan membela diri. (Kok jadi berdebat ya :|)

“…Itu juga tentang ribut-ribut DPR sama orang pajak, saya juga ga nyalahin siapa-siapa kok. Cuma maksudnya, masih banyak gitu kasus-kasus besar yang mesti diurusin; kenapa yang kecil-kecil dipermasalahkan?  Apakah ini pengalihan isu dari permasalahan politik yang lagi panas? Begiiitu. Jadi ya saya ga habis pikir aja kalo anda bilang saya mencoba meracuni pikiran anda semua dengan pemikiran saya. Ga bener itu. Ga ada niat. Ga ada. Mungkin teman-teman anda yang masih dalam tahap berpikir ini juga ga kepikiran begitu; saya ya cuma mengarahkan dan membantu...”

Jleb! Jleb! Jleb! Gue ngerasa ditusuk oleh orang bertenaga Attack Sepuluh Tangan. Kok bapaknya malah kaya pengen bilang kalo gue itu sok-sok pinter banget ya. :( Sumpaaah! Gue berani digantung di Monas bareng Anas kalo niat gue bukan murni pengen mengklarifikasi beritanya.

Untunglah, setelah beberapa kalimat berikutnya, Pak Didi memersilahkan gue buat ngasih penjelasan; meskipun cuma sepotong;

Aduh pak, maksud saya itu bukan menuduh bapak meracuni ato merecoki pikiran mahasiswa; ya ngga lah pak. Tapi, kenapa saya pengen menanggapi, karna nanti kalo misalnya ada yang ga ngikutin perkembangan berita dan segala macemnya, malah jadi salah kaprah gitu pak. Nanti…—”

Hap! Gue kembali terhenti mendadak karna Pak Didi segera menimpali,

“Aduuh, kalo masalah mau ditindaklanjuti ato tidak contoh yang saya kasih ya itu terserah anda. Itu kan bukan di dalam kelas saya lagi. Yang penting, saya ga ada ya niat pengen meracuni mahasiswa dengan pemikiran saya ato macem-macem. Ga ada itu. Udah deh, ini nanti kita diskusi aja abis kuliah berdua yah.”

Pak Didi pun kemudian mengakhiri penjelasan beliau dengan ajakan berdiskusi lebih lanjut; diiringi dengan ekspresi yang sulit ditebak: antara lagi tertawa atau memarahi gue.

Pas gue mau ngomong lagi, Riyanti—yang duduk di sebelah gue—ngerem sambil bilang, “eh eh udah deh vio. nanti aja ngomong lagi sama bapaknya.”

” Tapi gue ga enak gitu lo yan. Kesannya gue yang gimana banget gitu; apa banget sih sok sok mengoreksi dosen. Macem yang pinter banget. Nanti satu kelas pada memandang hina ke gue.”

“Iyaa. Gue ngerti kok. Gue juga mikir sama kaya lo. Tapi kayanya Pak Didi lagi sensian deh; nanti aja abis kuliah biar tenang dikit.”

“………………….”

___________________

Akhirnya, usai kuliah, gue “nungguin” Pak Didi, yang lagi ngeberesin bawaannya, di luar kelas. Dengan perasaan H2C, gue pun memulai dengan permintaan maaf kalo misalnya si bapak tersinggung whatsoever sama omongan gue di kelas tadi. But turns out Pak Didinya cuma senyam-senyum doang dan ga keliatan emosional (ini bukan gue yang bilang loh ya; tapi temen-temen di dalem kelas yang tadi pada ketawa-ketiwi ngeliat gue kaya orang keselek bom atom dalem lagunya Maroon 5 yang “Megap-Megap”—baca: “Harder to Breathe” ya) kaya sebelumnya.

Pak Didi:

Ga apa-apaah. Cuma ya jangan dibilang saya meracuni pemikiran mahasiswa segala macem.”

Gue:

Aduhhh…ngga pak; ngga ada maksud sama sekali ke situ. Tadi itu, maksud saya salah persepsi ya takut ada yang ga check and recheck cerita dari bapak dan akhirnya bikin mereka antipati sama pemerintah. Soalnya tadi ada yang krasak-krusuk ngomong kaya begitu; bukan mempermasalahkan bapak merecoki pikiran orang segala macem.” (Sumpah deh gue ga kepikiran sama sekali ke arah sana).

Pak Didi:

Iyah, iyah. Ga apa-apa kok.”

Gue:

Aduhhh…saya minta maaf banget ya pak ya kalo ada kata-kata saya yang menyinggung bapak.”

Pak Didi:

Iyaaah. Iyaah. Ga apa-apa.”

Dan si bapak pun pergi dengan meninggalkan ekspresi wajah yang masih ga ketebak dan segurat kecemasan di hati gue; kalo-kalo gara-gara insiden ini bapaknya bakal menyimpan kesan buruk sama gue dan bisa-bisa berpengaruh dengan hasil akademis gue. Dengan segudang kerisauan dan gundah gulana di dalam hati, gue pun akhirnya melangkah masuk dengan lemas ke dalam kelas Geopolitik yang sudah mau dimulai oleh Ibu Deasy.

And just to be fair, I’d like to clarify that my motive to talk earlier; adalah karena gue ngerasa udah cukup kecewa sama banyak media massa—kecuali Tempo, yang, from my point of view, sukses menjadi satu-satunya bacaan (baik koran maupun majalah) yang menyediakan berita-berita dengan penyajian netral, berimbang, dan (umumnya) komprehensif—yang semakin hari semakin sering melakukan pembunuhan karakter—terutama terhadap pemerintah—sehingga di mata masyarakat, pemerintah itu udah ga bisa diharapkan sedikitpun.

Gue juga bukannya ngebelain pemerintah yang korup—sebenernya kalo ini negara anarki, gue mungkin bakal ngancurin itu orang-orang Senayan yang kerjaannya molor, makan, hedon, dan studi banding doang; ngabisin duit negara padahal masih banyak yang penting banget dibenahi—; tapi kan sedih kalo yang diekspos dan di-coverage oleh media massa cuma bobroknya doang; sedangkan prestasinya, yang emang udah ga seberapa, selalu dipinggirkan. Menurut gue, mau gimanapun, rakyat itu butuh berpikir lebih dewasa dan realistis sama pemerintah. Seengganya, dengan begitu, masyarakat pun bisa menilai seberapa sukses pemerintahan saat ini. Jangan sampe rakyat malah jadi utopis membabi-buta; pengen semuanya beneeeeeer aja. Padahal kan emang hidup ada suka ada dukanya. Orang US aja yang semaju dan sebaik itu manajemen pemerintahan—dan dunia hiburan—nya masih bisa kolaps juga kok. Jadi ya sing sabar to ndok…

Dan sejujurnya, dalem hati gue yang lelah—seriously?—, masih terdengar sayup-sayup rintihan a la mahasiswa;

Ya Tuhaan. Jangan sampe nilai gue berantakan cuma gara-gara ini…

__________________

DISCLAIMER: Setiap unsur dialog dalam tulisan ini adalah berdasarkan ingatan gue yang meskipun bagus tapi tetap terbatas. Jadi mohon banget dikoreksi kalo ada yang salah. Seandainya Pak Didi ato pihak-pihak lain yang berkepentingan membaca tulisan ini dan merasa ada kekeliruan, silahkan dikoreksi. Jangan sampe deh saya disomasi dan bernasib kaya Mbak Prita yang mesti memeras hati menghadapi pemegang kekuasaan. Terima Kasih.■

13 thoughts on “Insiden Demokrasi dan HAM, 16 Maret 2012

  1. Reiza Harits (@reizaharits)

    numpang ngomen ye rav hehe. gw termasuk orang yang cukup penasaran ama insiden itu (gw duduk di pojok rada belakang waktu itu jadi ga tau alesan yg jelas)
    dan ternyata yang diributkan itu ini! #caseclosed
    sejujurnya sih gw sependapat ama lo rav. media emang terlalu banyak memasarkan “bad news” dibanding “good news”. kalo ga di balance ama berita-berita positif ya hasilnya masyarakat kita jadi pesimis ama pemerintah. dan itu yang GA BOLEH TERJADI.
    tapi ya mungkin Pa Didi yang mewakili rakyat juga cape liat berita2 kaya gitu terus. gw aja suka kesel sendiri kalo nonton tivi beritanya gitu2 mulu haha. biasanya emang semakin tua itu semakin sensitif rav. apalagi dikomporin mulu ama media.

    nice blog anw!

    Reply
    1. Ravio Patra Post author

      Iya za. Gue juga ngerti sih. Beberapa minggu yang lalu, tepatnya sekitar wal Februari hingga awal Maret, gue juga mengalami masa-masa sangat tidak percaya sama pemerintah kok.
      But then it hit me, kalo pemerintah cuma dihujat karna kurangnya dan ga didukung sama sekali karna lebihnya, kita juga kan yang repot? Tiap hari kebutuhan energi masih terpenuhi, kebutuhan pasar masih ada, transportasi masih diatur biar riweuh, dan kita pun masih bisa jalan ke mana-mana dengan rasa aman tanpa rasa takut bakal tiba-tiba kejatuhan misil dari Israel kaya di Gaza sana.
      Dari situ gue mulai belajar ngeliat bagusnya pemerintah, biar sedikit. Jadi emg kurang setuju aja kalo pak Didi juga ikut2an; secara beliau kan dosen, yang mestinya bersifat netral dan tidak menyudutkan pemerintah. Apalagi mahasiswa zaman skrg kan banyak yg ya udah kalo di luar kelas, putus hubungan sama kuliahan.
      Jadi bener-bener ga ada lah niat pengen menuding pak Didi melakukan indoktrinasi de es be. NOT AT ALL :/

      Reply
  2. qiqioo

    I re-read it. menemukan pengertin ga sekedar pengartian. sebelumnya cuma baca sekali dan langsung kuman. bacanya dengan konsentrasi rendah serendah aikiu saya. halah.

    apiii. ini oke banget loh. meski kedengeran negatif, debat itu ga senista yang ada di pikiran orang orang picik kok. bagus malah. ki ngerti loh maksud api. sama sekali ga ada niat ngerecokin sok intelek atau ngajarin dosen. api cuma ngasih tau pendapat api.

    persepsi. lagi lagi persepsi. dosen ki pernah bilang yah. kalo tiap komunikasi kita itu ga ada yang absolut. yaiyalah. satu dari 12 konsep komunikasi kan melibatkan prediksi komunikasi peserta komunikasi. nah kan namanya orang pasti beda beda pengalaman beda beda cara pandang. bener juga kata temen api kali aja waktu itu sibapak lagi sensi. lagi dapet gitu? #yakaleee

    yang api lakukan udah bener sih. minta maaf. walaupun ya.. in-my-not-really-humble-opinion ga harus minta sori banyak banyak. tapi ya.. dalam tatanan budaya. kato nan ampek apalagi kita suku minang. orangtua itu kudu dihormatin. sekalipun menurut kita kita bener kan. tapi tetep aja. yah.. gitu.

    semoga nilai api baik baik aja ya. suka deh sama mahasiswa kritis. – kiki, mahasiswa statis… tika! hahaha.

    Reply
    1. Ravio Patra Post author

      Aduh Kiki. Ternyata ya… IQ kamu… #salahfokus #becandaya

      Iya ki. sebenernya juga sampe sekarang masih belum ngerti how come my words were misinterpreted like that. Rasanya gue cuma mikir begini; masalah politik dan kekuasaan apalagi kalo ada sentimen uang itu kan riskan jadi kemelut, nah, supaya ga ada salah kaprah, ya siapapun yang menyebarkan berita (bukan cuma media massa) ga ada alasan buat memberikannya setengah-setengah alias ga utuh.

      Oke sih kalo emang ga niat begitu, tapi buktinya emang terjadi kan ada yg terpicu otaknya untuk menyimpulkan bahwa pemerintah udah ga bisa jadi tempat bergantung. I am aware that the executives are mostly lowlife, but still they were elected by the people. Emang mau negara jadi anarkis? Ato mau rusuh kaya 98 lagi cuma gara2 kebusukan beberapa pihak?

      Dari situ lah, gue kan juga ga menyalahkan bapaknya. Tapi mungkin memang karna bapaknya ga merasa ada yang salah, sedangkan gue iya. Begitu juga sebaliknya; gue ga ngerasa ada yang salah dengan tanggepan gue, sedangkan bapaknya iya.

      “Saya percaya setiap masalah dalam kehidupan manusia itu berawal dari kegagalan manusia untuk berkomunikasi.” – Rizky Syaiful (Fasilkom UI 2008)

      Reply
      1. qiqioo

        agree! nah kan emang ga ada yang absolut di dunia ini. cuma ada hipokrat. #eaaa #ditombak jadi ya gitu. persepsi yang berbeda kalo ga segera diluruskan diselaraskan bakal memicu konflik. sebenernya yang kita butuh cuma pehamaman bersama. contohnya sodara sodara di timur sana. pake koteka. sedangkan buat orang orang di barat tata cara berpakaian ga kaya gitu. sebutlah salah. tapi disana mereka santai santai aja. bener bener aja. makanya butuh komunikasi lintas budaya. uhuk. hahaha jadi ya bapaknya udah bilang ga papa berarti case closed. paling engga dia ga ngamuk depan kelas. paling ga dia masih suruh api nemuin dia setelah kelas.

        kalo beliau profesional *amiiin* pasti fair lah kasih nilai api. dont worry. ;)

        Reply
      1. qiqioo

        serius. berbanding terbalik dengan saya yang sangat serius tidak seriusnya haha kusut. udah difollow balik yaaa

        Reply
        1. Ravio Patra Post author

          it’s okay. I mean, as long as that meat on your left chest keeps up the good work it has been doing for, like, ever, then you still have a lot of time to make changes in your life; though it doesn’t just simply happen to anyone. there has got to be some efforts made; so light up the dream!

          Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s