Memutus Lingkaran Setan antara Pendidikan dan Kemiskinan melalui Global Partnership: Kajian Multidimensi terhadap Human Security


Esai ini adalah penerima 2nd Prize for Best Paper and Presentation dalam kegiatan Parahyangan International Affairs Week 2013 dengan tema “Understanding the Core of Human Security Development to Build a Better Nation.”

__________

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat dari masa ke masa telah memungkinkan manusia untuk terus berkembang, baik dalam aspek perilaku maupun pola pikir, sehingga menimbulkan berbagai dinamika tersendiri. Di antara banyak ilmuwan yang secara signifikan berkontribusi terhadap kemajuan ini, Albert Einstein, salah satu ilmuwan terbesar yang pernah ada, pernah berujar bahwa “Everything changed, [therefore] we shall require a substantially new manner of thinking if mankind is to survive” (United Nations Development Programme 1994, h. 22) sekenaan dengan penemuan energi nuklir yang, saat itu, diprediksinya akan menimbulkan perubahan yang sangat krusial terhadap kehidupan manusia.

(Sumber Gambar: Color Coat)

Pernyataan Einstein, yang terbukti benar seiring dengan bagaimana energi nuklir telah menjelma menjadi sumber polemik—semenjak dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II hingga kisruh berkepanjangan mengenai pengembangan energi nuklir oleh beberapa negara dalam tatanan global saat ini—relevan dengan pemahaman manusia mengenai konsep keamanan yang juga telah bergeser secara signifikan. Saat ini, manusia dihadapkan pada tantangan bahwa isu keamanan tidak lagi hanya terkungkung di dalam dimensi yang militeristik atau tradisional, melainkan sudah jauh lebih luas daripada itu; di mana isu-isu keamanan saat ini menyentuh hingga kepada bagian-bagian terkecil dari kehidupan manusia. Pergeseran pemahaman mengenai keamanan yang menyentuh hingga ke ruang personal (private realm) inilah yang digambarkan sebagai konsep human security; yang berorientasi pada kesejahteraan setiap individu dalam masyarakat secara holistik.

Memahami Human Security

Konsep human security berkembang sebagai suatu tanggapan terhadap ketidakmampuan konsep traditional security untuk memberikan platform yang luwes dan holistik dalam proses pemahaman mengenai bagaimana permasalahan keamanan, sebagai salah satu isu paling krusial dalam kehidupan manusia dari masa ke masa, tidak hanya sekadar berbicara mengenai persoalan perang dan damai, tapi juga mengangkat isu-isu kesejahteraan individu.

Dalam Human Development Report yang dipublikasikan oleh United Nations Development Programme (1994, hh. 24—25), human security didefinisikan sebagai suatu konsep keamanan dengan tujuh komponen utama, yaitu keamanan ekonomi (economic security), keamanan pangan (food security), keamanan kesehatan (health security), keamanan lingkungan (environmental security), keamanan individu (personal security), keamanan masyarakat (community security), dan keamanan politik (political security).

Ketujuh komponen inilah yang secara simultan dan saling bahu-membahu memberikan jaminan keamanan bukan hanya secara fisik, namun juga secara psikologis. Hal ini mungkin tercapai karena tujuh komponen ini dikembangkan sebagai suatu derivasi dari dua asas utama human security, yaitu keyakinan bahwa setiap individu memiliki hak akan dua bentuk kebebasan: freedom from want dan freedom from fear (United Nations Development Programme 1994, h. 24).

(Sumber Gambar: Inter-American Institute of Human Rights)

Keberadaan konsep human security yang berangkat dari cita-cita untuk memberikan kebebasan yang nyata bagi manusia dari terjadinya deprivasi (sejalan dengan prinsip freedom from want) dan rasa takut (sejalan dengan prinsip freedom from fear), logis karena proses penemuan human security ditopang oleh dua pondasi utama (United Nations Development Programme 1994, h. 24), yaitu:

  • Pergeseran dari penekanan yang khusus terhadap keamanan teritorial (territorial security) kepada penekanan yang jauh lebih kuat terhadap individu maupun masyarakat di mana individu-individu saling berinteraksi;
  • Pergeseran dari pencapaian keamanan melalui kegiatan persenjataan (armaments) kepada pencapaian keamanan melalui pembangunan manusia yang berkelanjutan (sustainable human development).

Melalui pemahaman mengenai peranan human security dalam memberikan jaminan keamanan yang menyeluruh bagi setiap orang, maka permasalahan kemiskinan terkait dengan ketidaktersediaan akses pada pendidikan yang memadai—sebagai isu yang akan menjadi fokus analisis dalam tulisan ini—menjadi suatu isu yang dapat dibahas dari sudut pandang keamanan (security) tanpa melupakan bagaimana isu ini tidak bisa sepenuhnya disekuritisasi. Premis ini didasarkan pada pemikiran bahwa pendidikan, yang telah menjelma sebagai salah satu kebutuhan paling mendasar manusia saat ini, memberikan peluang yang lebih besar bagi manusia untuk dapat memeroleh kesejahteraan secara ekonomi; sehingga tidaklah mengherankan apabila beberapa negara berkembang, ditambah dengan kondisi ekonomi yang terus tumbuh dan bergerak maju, mengalami kesulitan dalam menekan tingkat kemiskinan yang disebabkan oleh kurangnya akses untuk memeroleh pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan kausalitas, diharapkan dari analisis yang dilakukan dapat ditemukan solusi untuk mengakhiri vicious circle antara pendidikan dan kemiskinan di negara-negara berkembang.

Isu Pendidikan dan Kemiskinan sebagai Kajian dari Human Security

Permasalahan kemiskinan di manapun mestilah dipahami sebagai suatu isu yang bersifat multidimensional. Meskipun secara langsung kemiskinan adalah sebuah permasalahan kesejahteraan secara ekonomi, namun banyak isu-isu lain yang muncul sebagai akibat dari kemiskinan; termasuk di antaranya permasalahan bahwa kemiskinan seringkali membatasi akses seseorang kepada pendidikan yang memadai; begitu pula sebaliknya, bahwa pendidikan seringkali menjadi alasan mengapa seseorang gagal memenuhi kebutuhan ekonominya secara mandiri; sehingga kemudian terjebak di dalam kemiskinan.

Di samping itu, keterkaitan pendidikan dan kemiskinan juga menjadi isu yang menyentuh berbagai dimensi karena implikasinya terhadap isu-isu lain yang sebenarnya bukanlah konsekuensi langsung dari permasalahan pendidikan ataupun kemiskinan. Akibat pendidikan yang rendah, misalnya, selain dapat menjerat seseorang dalam kemiskinan, juga bisa memicu tingginya tingkat pengangguran (unemployment rate) ataupun tingkat literasi di dalam masyarakat. Sementara isu kemiskinan bisa jadi berakibat pada peningkatan tindak kriminal, berbagai permasalahan kesehatan, hingga berbagai masalah yang ditimbulkan oleh perumahan warga miskin di kawasan kumuh di berbagai tempat.

Hubungan timbal balik antara kemiskinan dan pendidikan inilah yang kemudian membentuk suatu vicious circle; lingkaran setan yang tidaklah salah apabila dikatakan sebagai salah satu isu terpenting dalam kajian human security saat ini; karena relevan dengan dua asas fundamental dari human security, yaitu freedom from want dan freedom from fear.

Konsep freedom from want menekankan pada bagaimana setiap individu haruslah terbebas dari deprivasi atau kemiskinan dalam seluruh makna yang mungkin; bukan hanya dalam konteks ekonomi deprivasi (Institute for International Cooperation 2006, h. xiii). Oleh karena maknanya yang begitu luas, perlu dipahami bahwa konsep freedom from want tidaklah dapat dipisahkan dari konsep freedom from fear; terutama karena keduanya dicapai secara simultan dalam wujud yang saling mengisi, bukan sendiri-sendiri. Hal ini logis karena konsep deprivasi menggambarkan suatu kondisi yang bukan hanya berkutat pada ketidakmandirian ekonomi, namun jauh lebih luas daripada itu, sehingga menimbulkan kerapuhan (vulnerability) di dalam masyarakat. Hal ini bisa dipahami melalui pemahaman mengenai bagaimana seringkali bagian masyarakat yang dilabeli sebagai golongan miskin (the have-nots) jauh lebih rentan terhadap berbagai bentuk ketidakadilan sosial seperti diskriminasi, ketiadaan layanan pendidikan, ketiadaan layanan kesehatan, dan sebagainya. Implikasi seperti inilah yang membuat konsep freedom from want berkaitan sangat erat dengan konsep freedom from fear; karena kebebasan dari deprivasi selalu membuat seseorang menjadi less vulnerable, sehingga secara logis juga tidak lagi dibayangi oleh berbagai ketakutan (fears) yang dimiliki ketika belum memeroleh freedom from want.

(Sumber Gambar: Poverty and You)

Penyelesaian polemik yang berkepanjangan antara problematika pendidikan dan kemiskinan pun pada dasarnya sejalan dengan definisi lanjutan dari human security sebagai perlindungan terhadap aspek-aspek vital kehidupan manusia melalui kiat-kiat yang meningkatkan kebebasan manusia (human freedoms) dan keterpenuhan kebutuhan manusia (human fulfillment). Dengan memahami visi dari konsep human security, maka penyelesaian permasalahan-permasalahan terkait bukan hanya sekadar meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun juga memperlengkap keamanan negara (complements state security), meningkatkan pemenuhan hak asasi manusia (enhances the fulfillment of human rights), serta memperkuat pembangunan manusia (strengthens human development) (Institute for International Cooperation 2006, h. 3). Hal ini berbanding lurus dengan salah satu pergeseran paradigma keamanan yang memicu kemunculan human security, yaitu pergeseran dari pencapaian keamanan melalui persenjataan (armaments) kepada pencapaian keamanan melalui pembangunan manusia yang berkelanjutan (sustainable human development).

Global Partnership

Keberadaan pemerintahan yang baik (good governance) sebagai pemangku kekuasaan di dalam negara sudah barang tentu merupakan salah satu kunci utama dalam memutus vicious circle antara pendidikan dan kemiskinan sebagai bagian dari pemenuhan human security (Kuwajima 2006, h. 29). Pemerintah, sebagai personifikasi dari negara, mestilah mampu melindungi warga negaranya dari segala bentuk ancaman; termasuk ancaman kemiskinan, yang di waktu bersamaan mengancam kualitas hidup warga negaranya.

Akan tetapi, lingkaran setan yang mengitari isu pendidikan dan kemiskinan bukanlah hanya tanggung jawab dari pemerintah, melainkan tanggung jawab setiap individu di dalam masyarakat. Hal ini berkaitan erat dengan kecenderungan masyarakat, terutama di negara berkembang, yang acapkali memilih untuk membebankan seluruh permasalahan kepada pemerintah sebagai aparatur negara. Berbeda halnya dengan sebagian kecil dari masyarakat yang bersifat lebih mandiri sehingga cenderung mengambil tanggung jawab atas permasalahannya sendiri dibanding menyerahkannya pada orang lain.

Hal ini relevan karena banyak negara berkembang berhasil bertransformasi menjadi negara maju berkat bantuan masyarakatnya yang memiliki sikap responsif terhadap dinamika dan perubahan yang terjadi. Mentalitas seperti ini sulit ditemukan di negara-negara berkembang dalam jumlah yang signifikan karena masyarakat yang cenderung memilih untuk tidak mengambil risiko.

Cina, yang dalam setidaknya tiga dekade terakhir telah mengalami kemajuan begitu pesat dalam berbagai bidang, misalnya, juga pernah melewati masa-masa permulaan sebagai negara berkembang. Namun, Cina berhasil melewati fase ini untuk kemudian menjelma menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia hingga saat ini. Sebagaimana digambarkan dalam liputan khusus majalah Tempo mengenai Kelas Konsumen Baru (Tim Liputan Khusus Tempo 2012, h. 60), masyarakat Cina mulai mengubah pola hidup mereka seiring dengan semakin pesatnya kemajuan ekonomi negara; karena menyadari bahwa kemajuan ekonomi membuat pasar semakin kompetitif sehingga dibutuhkan kompetensi yang semakin lebih baik pula. Pola pikir seperti inilah yang memicu kelompok demografis muda di Cina memilih untuk menghabiskan hampir sepanjang hari untuk memeroleh pendidikan; mulai dari pendidikan formal di sekolah-sekolah pada pagi hingga siang hari hingga kursus keterampilan tambahan seperti olahraga, bahasa, dan seni. Dengan kiat seperti ini, masyarakat Cina tidak selalu mesti bergantung pada ketersediaan lapangan kerja, namun mampu berkreasi menciptakan lapangan pekerjaan; salah satu hal yang sulit ditemukan di negara-negara lain, meskipun bukan berarti setiap negara maju bergantung pada pola seperti itu.

(Sumber Gambar: Education for All)

Kesadaran seperti ini bisa jadi menjadi faktor yang membedakan keluaran dari proses pembangunan ekonomi di berbagai negara. Banyak yang berupaya memacu ekonominya agar mencapai laju yang tinggi, namun tidak diikuti dengan pemahaman yang dalam mengenai sejauh mana masyarakatnya siap menghadapi kemajuan. Namun, melalui sinergi antara proses dan sistem pendidikan dengan pemerataan dan pembangunan ekonomi, lingkaran setan yang terbentuk semestinya bisa diputus atau bahkan dihindari sama sekali.

Perbedaan sikap dan penanganan yang ditempuh oleh berbagai negara dalam tatanan global ketika dihadapkan pada dilemma antara pendidikan dan kemiskinan ini memunculkan ide bahwa solusi yang bisa jadi mampu memutus lingkaran setan di antara keduanya adalah melalui suatu platform kerjasama global di mana setiap negara. Melalui platform ini, setiap negara, terlepas dari bagaimana status pembangunan mereka, mengupayakan dihasilkannya suatu jalan keluar bersama yang applicable bagi setiap negara dengan tetap memerhatikan relevansi dari solusi yang dimunculkan.

Dalam rangka menjaga relevansi dari solusi yang dihasilkan, maka terdapat tiga levels of analysis untuk memastikan bahwa setiap solusi memiliki mekanisme unik bagi tiap negara sesuai dengan tiga tingkatan tadi, yaitu:

  • Governmental Structure

Governmental Structure memerhatikan analisis dari isu pendidikan dan kemiskinan sebagai sebuah vicious circle dari aspek struktur kepemerintahan yang memang kerap kali unik di setiap negara. Melalui tingkatan ini, dapat diketahui bagaimana mekanisme global partnership ini mampu menghasilkan solusi sesuai dengan keunikan dari setiap struktur pemerintahan di tiap-tiap negara; sehingga secara langsung berdampak pada proses policy-making.

  • Characteristics of the Society

Characteristics of the Society merupakan faktor yang mengimbangi analisis di tingkatan governmental structure, karena tingkatan ini memerhatikan bagaimana karakteristik atau sifat-sifat dari setiap masyarakat berbeda dalam berbagai hal. Sekenaan dengan upaya memutus lingkaran setan antara pendidikan dan kemiskinan, analisis di tingkatan ini mestilah dititikberatkan pada bagaimana kebijakan atau solusi yag dihasilkan mampu mengatasi perbedaan-perbedaan dari berbagai masyarakat di dalam negara.

  • International Relations

Pada tingkatan international relations, upaya pemutusan lingkaran setan antara pendidikan dan kemiskinan dititkberatkan pada bagaimana global partnership yang dibentuk menimbulkan interaksi antarnegara yang intens dalam tatanan global. Melalui analisis di tingkatan ini, diharapkan akan terbentuk suatu sinergi antara pendidikan dan kemiskinan sehingga solusi yang dihasilkan bersifat jangka panjang. Keterlibatan analisis di tingkatan international relations pun berpengaruh pada bagaimana global partnership ini dapat bekerja secara efektif melalui kerjasama di antara setiap negara; di mana negara-negara yang telah berhasil mengatasi isu ini bisa menjadi percontohan bagi negara-negara lain; baik dari aspek pembuatan maupun penerapan kebijakan; bahkan hingga pada proses pengawasan terhadap penerapan kebijakan.

***

Melalui pemahaman akan peran global partnership dalam memutus lingkaran setan antara isu pendidikan dan kemiskinan sebagai sebuah kajian human security yang bersifat multidimensional, mestilah dipahami bahwa pemenuhan human security merupakan kebutuhan manusia yang sangat esensial; sehingga penanganannya membutuhkan solusi yang saling mengisi dari setiap lapisan masyarakat global.

Kesimpulan

Konsep human security muncul sebagai jawaban atas kebutuhan manusia akan rasa aman yang menyeluruh; bukan hanya secara fisik, namun juga secara psikologis. Di negara-negara berkembang, human security menjelma menjadi isu yang sangat krusial karena proses pembangunan yang belum mampu memberikan kesejahteraan secara merata bagi setiap individu. Kondisi ini sejalan dengan bagaimana, di banyak negara berkembang, kemiskinan disebabkan oleh rendahnya akses terhadap pendidikan yang memadai; serta sebaliknya, di mana rendahnya tingkat keterpenuhan (fulfillment) kebutuhan manusia akan pendidikan disebabkan oleh kemiskinan yang menjerat.

Lingkaran setan (vicious circle) antara kemiskinan dan rendahnya akses terhadap pendidikan terbentuk sebagai akibat dari continual relationship di antara keduanya. Hal ini membuat penanganan keduanya pun membutuhkan solusi yang secara simultan mampu memutus lingkaran setan di antara keduanya. Dari dimensi human security, memutus lingkaran setan ini sudah semestinya menjadi prioritas setiap negara karena pendidikan telah menjelma sebagai salah satu kebutuhan manusia yang paling fundamental, sama halnya dengan kesejahteraan ekonomi; sesuai dengan prinsip freedom from fear dan freedom from want yang menjadi pondasi dari konsep human security.

Melalui level of analysis yang bertingkat, yaitu struktur pemerintahan (governmental structure), karakteristik masyarakat (characteristics of the society), dan hubungan internasional (international relations), diyakini bahwa isu ini dapat diselesaikan melalui suatu platform kerjasama global (global partnership); di mana setiap negara dapat saling bertukar pikiran dan kiat agar terformulasikan suatu solusi bersama yang tetap relevan dan efektif bagi setiap negara. Pun global partnership ini dijalankan dengan mengacu pada satu tujuan bersama; memastikan ketersediaan akses yang memadai untuk memeroleh pendidikan dengan fokus pada setiap individu agar mampu memeroleh kemandirian secara ekonomi; beriringan dengan terjaminnya human security.■

__________

Referensi

Institute for International Cooperation (2006) Poverty Reduction and Human Security. Tokyo: Japan International Cooperation Agency.

Kuwajima, Kyoko (2006) Major Issues on Governance and Human Security. Dalam: Institute for International Cooperation, Poverty Reduction and Human Security. Tokyo: Japan International Cooperation Agency, h. 28—29.

Tim Liputan Khusus Tempo (2012) Liputan Khusus: Kelas Konsumen Baru. Majalah Tempo, 20-26 Februari 2012, hh. 52—105.

United Nations Development Programme (1994) New Dimensions of Human Security. Dalam: Human Development Report 1994. New York: Oxford University Press, hh. 22—46.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s