Sampai di Titik Jenuh


[Tulisan berikut sudah ada sejak 3 tahun yang lalu di blog ini, namun saya atur “private” sehingga hanya saya yang bisa membaca. Kini biarlah semua orang bisa membaca; toh saya sudah berdamai dan berkesudahan dengan keresahan yang dirasakan ketika menulis ini.]

***

Sudah lama ingin bercerita tentang ini, tapi entah kenapa selalu tertunda. Lagi-lagi tentang kuliah yang sepertinya begitu menyiksa bagi saya. Ya, kuliah memang pilihan saya sendiri. Toh tak ada yang memaksa, kecuali pandangan sinis masyarakat yang seakan-akan memvonis tidak kuliah sama dengan tidak punya masa depan.

I’ve… Had Enough. (Sumber: Cool Cat Teacher)

Kalau memang pilihan, lalu kenapa saya begitu sering mengeluh dan mengutuk keadaan?

***

Saya mulai berkuliah di program studi HI Unpad pada bulan Agustus 2011 setelah memutuskan mengundurkan diri dari program studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia, yang ketika itu baru saja saya tuntaskan untuk tahun pertama. Alasan saya pindah sangat sederhana: mengejar passion.

Kenapa harus pindah kampus? Ada beberapa alasan, tapi yang paling menarik bagi saya ketika itu adalah karena masukan dari beberapa rekan yang meng-endorse program HI di Unpad sebagai yang paling baik di Indonesia sekaligus tidak adanya konsentrasi (emphasis) yang harus diambil. Dengan kata lain, saya bisa belajar tanpa harus membatasi minat saya di bidang kaji tertentu yang spesifik.

Sayangnya, ada satu faktor penting yang benar-benar tak saya perhitungkan sebelumnya: kualitas tenaga pengajar alias dosen. Dalam asumsi saya yang ketika itu sudah setahun di UI, kualitas Unpad tidaklah jauh kalah karena prestasi dan reputasinya juga cukup baik.

Tanpa melebih-lebihkan, minggu-minggu awal berkuliah di sini begitu sulit bagi saya. Dosen yang begitu jarang hadir mengisi perkuliahan, keterlambatan yang membudaya, sampai metode ajar yang sangat tidak menarik, membosankan, dan tidak ‘berisi’ membuat saya mulai mempertanyakan apakah saya membuat kesalahan besar pindah kuliah ke sini. Tapi ya sudahlah, saya asumsikan ketika itu bahwa ini hanya sindrom di awal masa kuliah saja. Lama-lama juga pasti membaik sendiri.

Satu semester berlalu tapi perbaikan itu tak kunjung datang. Malah saya dibuat terperanjat ketika mendapati nilai-nilai yang tak bisa dikatakan bagus di akhir semester. Untuk mata kuliah bahasa Inggris dengan fokus pada academic writing saja, saya diberi nilai C (dalam rentang A-E) oleh dosennya. Bahkan ayah saya sampai tak habis pikir. Bukannya sombong, tapi memang sedari kecil, bahasa Inggris adalah andalan saya. Dari rapor SD sampai SMA, belum pernah nilai bahasa Inggris saya menyentuh angka di bawah 91 (dari skala 100). Skor TOEFL saya ketika kelas 3 SMA sebesar 573 (dalam skala PBT) pun rasanya cukup dapat menggambarkan mengapa saya sampai terperanjat oleh nilai C ini. Tapi saya anggap saja mungkin memang usaha saya kurang baik dan ini adalah anomali dalam catatan akademis saya.

Bayangkan. Meninggalkan studi di UI demi kuliah di sini, dan semester pertama hasilnya hanya IPK (GPA) sebesar 3.22 (dalam skala 4.00). Mungkin terdengar arogan dan tidak tahu diri. Mengapa menyalahkan orang lain atas hasil yang diraih sendiri? Namun pada kenyataannya, di institusi pendidikan tinggi ini tidak ada keterbukaan. Bagaimana saya bisa berdamai dengan hasil kuantifikasi studi saya kalau saya tidak tahu di bagian mana saya gagal memenuhi indikator pembelajaran? Sementara teman-teman yang lain meminta bantuan saya untuk memahami apa yang dipelajari―dan memeroleh hasil yang baik. Tidak berlebihan kalau saya merasa ada sentimen nonakademis atau ketidakbecusan (seperti memberikan penilaian secara acak karena tidak ada sistem penilaian yang jelas dan tertarata) merajalela.

Semester kedua saya bertekad memeroleh hasil yang lebih baik tanpa excuse. Saya mulai aktif kembali di kampus setelah cukup memosisikan diri di antara teman-teman seangkatan. Mulai aktif kembali berargumen di dalam perkuliahan dan mencari kesibukan di lingkungan baru. Pun rupanya saya berharap terlalu tinggi. Di mata kuliah Demokrasi dan HAM saja, baru di awal semester saya bermasalah dengan dosen karena beliau tidak menerima kritikan saya atas pernyataan yang disampaikan (lengkapnya ada di Insiden Demokrasi dan HAM, 16 Maret 2012). Di akhir semester, sesuai dengan perkiraan, nilai saya adalah C untuk mata kuliah ini.

Setidaknya IPK saya ada perbaikan sedikit menjadi 3.38 di akhir semester kedua ini.

Momentum saya di semester ketiga sebenarnya tak lepas dari andil beberapa dosen yang baru saya temui di semester ini, terutama Papap, teh Ali, dan teh Sendy yang cukup membuat saya mulai yakin ada perbaikan kualitas pengajar di semester-semester atas. Saya juga mulai memberanikan diri kembali ke dunia kompetitif, bermula dari memenangi lomba menulis nasional di Universitas Negeri Malang dan berlanjut dengan kemenangan pada Pertemuan Nasional Mahasiswa HI se-Indonesia di UGM pada bulan November 2012.

Hal yang ingin saya soroti adalah kemenangan saya (bersama Flo) di PNMHII ternyata tak mendapat respon sama sekali dari pihak fakultas. Berbeda sekali dengan budaya ketika saya berada di UI. Malu rasanya kalau mengingat momen diselamati oleh dosen ketika hanya berhasil menjadi peringkat ke-10 dalam English Debating pada Olimpiade Ilmiah Mahasiswa 2010. Singkatnya, tak ada apresiasi sama sekali. Jangankan penghargaan, ucapan selamat pun sepertinya terlalu mahal untuk para petinggi kampus di sini.

Semester tiga IPK mulai bergerak naik ke angka 3.44. Masih jauh dari harapan, tapi saya mulai optimis.

Memasuki semester keempat, saya benar-benar optimis dan penuh harapan. Meskipun belum semuanya, secara umum perkuliahan di semester tiga yang lalu adalah yang terbaik selama saya di sini. Bukan karena nilainya yang baik, namun karena saya mulai menemukan lagi semangat dan ambisi yang hampir setahun lebih saya tinggalkan untuk berkompetisi. Di semester inilah akhirnya saya memutuskan tidak akan pernah meminta dispensasi perkuliahan ketika pergi berlomba di luar kampus. Buat apa kalau mengurusnya saja harus melalui birokrasi kacangan dan dosen pun bisa dengan seenaknya menolak dispensasi yang dikeluarkan pihak fakultas?

Sayangnya perkuliahan di semester ini kembali lagi ke titik nadir. Di mata kuliah Organisasi Internasional, bukan satu dua kali saya terpaksa mengeluarkan argumen untuk mengoreksi pernyataan dosennya, sampai-sampai saya sendiri terpikir seperti apa kualifikasi untuk menjadi dosen di sini? Kenapa banyak tenaga ajar yang malah kebingungan dengan materi ajarnya sendiri? Untunglah di semester ini ada tiga kelas Papap dan teh Ali yang cukup menjadi alasan untuk tidak jenuh.

Hasil di semester keempat menjadi grafik negatif pertama saya selama di sini. IPK relatif stagnan di angka 3.43.

Di minggu-minggu awal semester kelima, saya mendapat kabar proposal PKM-GT (bagian dari kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) kelompok saya menjadi satu dari 22 dari Unpad yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atau Dirjen Dikti. Lucunya, kalau teman-teman penerima hibah yang lain sudah tahu dari pembimbing masing-masing, saya baru tahu akan hal ini setelah sekitar 2 minggu sejak pengumuman. Memang pembimbing saya siapa? Bukan siapa-siapa, hanya Pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan. Orang yang pernah mengeluarkan pernyataan mengenai kekecewaannya pada ketiadaan prestasi mahasiswa HI Unpad di bidang menulis. Ya, memang tak ada yang punya pencapaian dalam menulis. Terserahlah, pak.

Pengalaman unik datang ketika saya mengikuti audisi untuk kompetisi Debat Mahasiswa yang diselenggarakan oleh stasiun televisi tvOne dan BNI. Bersama Navajo dan Maleakhi, saya berhasil melaju ke tingkat nasional. Dalam salah satu wawancara, kami ditanyai mengenai dukungan kampus. Iri juga rasanya ketika mendengar beberapa tim lain yang dijanjikan beasiswa penuh sampai lulus, dijanjikan bonus berupa paket umroh, atau bahkan yang didampingi langsung oleh rektor dan dekannya. Kalau untuk kami bertiga, jangankan didampingi atau didukung, surat dispensasi saja hanya ditandatangani sekretaris pembantu dekan. Senangnya.

Di sinilah kejenuhan saya berkuliah di sini memuncak. Dosen-dosen luar biasa seperti teh Ali atau Papap tak lagi cukup untuk mengatrol semangat dan antusiasme berkuliah. Energi negatif yang datang dari dosen yang tak tahu apa-apa (kecuali melawak), dosen yang tak pernah hadir, dosen yang bahkan tak mengerti pengertian range dalam statistika deskriptif, dosen yang membatalkan kelas karena materi belum siap, dosen yang tanpa ampun memukuli papan tulis karena gagal menahan amarah, dosen yang entah bagaimana bisa jadi dosen, dosen yang sangat penuh dengan prejudice, dosen yang menganggap kemenangan Spanyol di Euro merupakan dampak dari sebuah kekuatan regionalisme (yang tak terlihat?), dosen yang sepanjang perkuliahan hanya berbicara tanpa kejelasan sampai saya tertidur, dosen yang sembarangan meniadakan perkuliahan tanpa alasan yang jelas, dosen yang hanya bermodalkan gelar sarjana, dosen yang materi perkuliahannya tak ada isi sama sekali, sampai dosen yang ketika menjelaskan human trafficking entah bagaimana bisa sampai pada cerita dia yang tak mengikuti wisuda dan bangga hanya karena itu.

Bukan saya kurang ajar. Bukan saya tak tahu diri. Bukan saya kelewat jumawa akan apa yang saya tahu, tapi sumpah, saya sudah sampai di titik jenuh harus menerima keadaan diajar oleh orang-orang yang bagi saya tak lebih pintar atau tak layak untuk dihormati sama sekali.

Toh, kalau materi kuliah hanya bersumber dari hasil googling-an atau wikipedia, saya bisa baca sendiri. Apalagi kalau sampai memvonis benar-salah. Semestinya, dosen―apalagi di bidang Ilmu Sosial―menekankan pada keberagaman perspektif. Bukan ini salah itu benar. Apalagi kalau dosen saja menulis buku penuh dengan plagiarisme, sitasi dari wikipedia dan bahkan kaskus, sekadar terjemahan buku John Baylis, atau malah ada yang malah menyadur tulisan mahasiswanya. Kalau ada dosen yang membaca tulisan ini dan tersinggung, baguslah, berarti masih sadar dan tahu diri. Masalahnya, yang saya temui di sini adalah orang-orang luar biasa yang bahkan tak tahu-menahu tentang peristiwa politik sebesar government shutdown di Amerika Serikat atau siapa Bradley Manning tapi masih merasa pantas memanggil dirinya DOSEN dengan kesombongan menulis buku yang bahkan tak layak baca.

Ah, sudahlah… Memang cuma begini adanya.

Saya sudah terlanjur sampai di titik jenuh yang berujung di titik klimaks. A point of no return.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s